Masih teringat 6 Desember tahun lalu, kami berencana untuk sekali-kali dinner di luar untuk merayakan anniversary. Rencana pun dibuat. Dzikri dititipkan di tempat nenek dan kami pun bersiap dinner setelah pulang kantor. Lokasi dinner masih belum diputuskan bahkan sampai saat motor abi sampai di depan kantorku.
Setelah diskusi di perjalanan dan pilah pilih lokasi yang (kemungkinan) romantis, akhirnya kami putuskan memilih salah satu resto di Plaza Indonesia. Ya, kami masih belum memutuskan resto yang akan kami tuju. Hampir satu jam muter-muter di Plaza Indonesia masih juga belum ketemu restoran yang pas untuk dinner berdua. Akhirnya, karena faktor si bumil ini kecapekan, mendaratlah kami di salah satu sofa di Pancious Plaza Indonesia.
Kami memesan satu pancake mango dengan eskrim, satu plain pancake, dan satu piring rib eye steak. Sok sekali ya! Wuahaha, ah sekali-kali, mumpung anniversary. Selesai makan, bayar dan meninggalkan Plaza Indonesia, kami sama sekali tidak merasakan suasana yang sebetulnya kami cari. Kami mencari romantisme, dimana kami bisa merasakan cinta diantara kami cukup lewat tatapan dan tanpa kata. Kami mencari suasana dimana kami dapat bercerita dan mengenang setiap momen dalam pernikahan kami.
Waktu pun berlalu. Sampai suatu hari abi memberikan kado ulang tahun berupa tiket pulang kampung ke Jogja. Hore! *sunsayangabinyaaa*. Kami pun membuat itinerary perjalanan selama di Jogja, salah satunya makan di mie ayam patbhe dan shopping di malioboro sampai hunting bakpia di kurnia sari.
Satu malam sebelum kami pulang ke jakarta, kami mengambil pesanan bakpia di Kurnia Sari. “Yuk ke kopi joss” Kata abi setelah memasukkan bakpia pesanan ke mobil. Karena Kebetulan Dzikri ditinggal di rumah sama Uti, kami pun mendatangi angkringan Lek Man di sebelah stasiun Tugu. Kami memesan segelas kopi joss, segelas es teh manis, dan segelas jahe panas. Jadah bakar, tempe tepung dan satu usus pun tersaji dalam piring kaleng klasik menemani malam kami.
Dan, ternyata romantis itu sederhana.
Hanya duduk di kursi kayu panjang,
sambil memandangmu meminum kopi panas.
Setelah menjelajah Plaza Indonesia dan resto demi resto, ternyata kehangatan itu ada di sini. Dan itu sederhana, tak harus dengan lilin dan makanan mewah.
Sesederhana kami bisa menghadirkannya di dalam ruang-ruang di setiap hari yang kami lalui
Sesederhana segelas teh hangat yang selalu kami minum berdua.
Sesederhana pelukan dan kata yang terucap di antara kami berdua.
PS : Kok jadi romantis gini?? Ah… memang segalanya jadi indah di Jogja